#Cerpen
Kakek, goloknya buat apa?
Pagi itu, sekitar pukul 8 pagi. Aku sedang menikmati opor ayam buatan Nenek yang sangat nikmat rasanya, Nenek memang sangat pandai dalam urusan masakan, sudah seperti koki profesional saja. Apapun yang dimasaknya, akan bercita rasa maknyuss!
Pada saat sedang menikmati Opor ayak, Terusik di telingaku bunyi gesekan benda yang diadu.
Penasaran!
Aku yang masih berusia tujuh tahun ini, penasaran dengan bunyi gesekan benda tersebut dan merasa perlu mencari penyebab dari suara tersebut.
Kuikuti asal sumber suara, ternyata berasal dari belakang rumah.
Sontak aku terkejut mendapati Kakekku tengah memegang benda tajam berkilauan yang digesekkan pada suatu batu.
Aku mengenal benda itu, namanya 'golok' yang jarang digunakan Kakek. Selama ini, benda itu hanya disimpan di ruangan khusus tempat peralatan tukang.
Kakek sebenarnya berprofesi sebagai tukang kayu, menerima pesanan pembuatan lemari, meja, bangku, dan lainnya. Maka dari itu, goloknya jarang digunakan, tidak seperti gergaji dan palu yang selalu digunakan kakek dalam bekerja.
Kudengar suara Mang Gani berkomentar.
"Wah, luar biasa! Ini sudah sangat tajam. Sekali gesek, bisa langsung putus."
Sambil terus menatap goloknya, Kakek bergumam, "golok andalan, akhirnya keluar juga. Sudah waktunya dia beraksi."
Aku merasa curiga pada mereka. Rasanya tidak rela jika Kakek yang sangat kusayangi, bertindak tidak baik.
Aku harus tau, apa yang akan dilakukan mereka.
"Ayo berangkat, Wak. Keburu siang." Ajak Mang Gani.
Mereka pun berlalu dengan mengendarai motor butut milik Mang Gani.
Aku yang khawatir akan keselamatan kakek mengikuti mereka dengan berlari, terus mengejar laju motor yang tidak terlalu kencang. Masih terjangkau pandanganku.
Akhirnya, aku sampai di suatu tempat yang tidak asing bagiku. Kukenali tempat itu sebagai tampat bermain dengan teman baruku, Bombom.
Aku baru sekitar satu minggu di kampung Kakek. Sebelumnya, aku tinggal di kota bersama orang tuaku, tapi Mama dan Papa mengajak untuk mengunjungi Nenek dan Kakek yang sudah lama tidak berjumpa.
Selama seminggu ini, aku hanya bermain dengannya, Bombom.
Aku memanggilnya Bombom, sebab badannya yang gemuk dan besar, kulitnya agak gelap, dan dia selalu saja hanya diam saat kujahili. Senang rasanya bermain dengan Bombom, teman yang sabar, tak pernah membully ataupun marah. Sangat berbeda dengan teman-temanku di kota, yang selalu memanggilku dengan sebutan yang tak kusenangi, serta berbuat sesuka mereka tanpa memikirkan apakah aku berkenan atau tidak terhadap ulahnya.
Setelah kutemukan sosok Kakek yang tengah menarik golok dari sarungnya, betapa kagetnya aku.
Kakek tidak sendiri, beberapa orang ikut membantunya melakukan perbuatan yang kejam itu, termasuk Mang Gani.
Jantungku berdebar kencang, lututku lemas, dan airmata deras keluar membasahi pipiku, saat kulihat darah mengalir deras dari salah satu anggota tubuh Bombom.
"Hentikan!" teriakku sengat kencang. Tapi, tak ada yang menghiraukan, mereka tetap saja dengan sukaria meneruskan tindakan itu.
"Kalian kejam, tak berprasaan." Berlari sambil terus berteriak histeris menuju ke rumah. Aku harus melaporkan tindakan kejam Kakek terhadap Bombom pada keluargaku. Mereka harus tau, jika Kakek telah menggunakan golok miliknya untuk menghilangkan nyawa teman baikku.
Sesampai di rumah, kulihat Mama dan Papa sedang asyik menonton televisi sambil mengunyah kue kering dalam toples, yang dibuat Nenek beberapa hari yang lalu.
Apakah mereka masih bisa santai seperti ini jika mengetahui Ayah mereka tengah melakukan tindakan pembunuhan!
Hah, semoga mereka siap dengan laporanku ini.
"Ma, Pa, Kakek kejam sekali," aduku dengan nafas ngos-ngosan.
"Habis larian dari mana, Nak?" tanya Mama.
"Minum dulu, sana. Biar nafasnya teratur dulu, baru cerita," sambung Papa.
Setelah meneguk segelas air putih, akupun mulai bercerita.
"Ma, Pa, Kakek itu kejam. Tega sekali mereka menggorok leher Bombom. Aku lihat darahnya mengalir deras, Bombom kejang-kejang dan akhirnya mati. Tapi, lebih kejamnya lagi, mereka seperti tak merasa bersalah, malah bersorak riang.
Aku tidak rela, kakek membunuh sahabatku, Bombom. Aku kesal padanya, Kakek telah menjadi seorang pembunuh. Huwwaaaa...." terangku dengan tangis yang membahana.
"Sayang, Kakek tidak kejam. Kakek hanya melaksanakan tugasnya saja," ucap Mama menenangkan.
"Apa Kakek bertugas untuk membunuh? Bukankah pekerjaan Kakek itu hanya membuat lemari, kenapa malah menghabisi nyawa Bombom dengan cara sadis!" sanggah ku.
"Begini, sayang. Bombom itu ditugaskan oleh Allah untuk membantu manusia mendapatkan pahala dengan cara menyembelihnya setelah selesai melaksanakan sholat idul adha. Jadi, sebagai hewan qurban, Bombom itu telah menjadi perantara manusia yang menyisihkan uang untuk membeli dan mengorbankannya, mendapatkan pahala besar disisi Allah." Ayah menerangkan dengan hati-hati.
"Jadi, Bombom itu memang harus dikorbankan ya, Pa?" tanyaku polos.
"Terus, Bombom akan masuk surga?" lanjutku.
Papa dan Mama hanya mengangguk dengan senyuman di bibir mereka.
Meski dengan berat hati, kurelakan sahabatku Bombom, seekor Sapi besar itu dikuliti dan dimutilasi oleh Kakek dan kawan-kawannya.
***
Sesaat kemudian, Kakek datang dengan menenteng Kepala Bombom.
"Nik, ini bagian kita," ucap Kakek pada Nenek.
"Alhamdulillah..." syukur Nenek dengan menenteng sekantong plastik daging merah dan kepala Bombom dengan mata melolotnya.
Dan aku menyaksikannya, hanya bisa teriak.
"BOMBOOOOOOOM."
TAMAT.
==========================
Cerpen ini didopsi dari kiriman seorang sahabat penulis
melalui media fb
RN.
Sultra
17072020.
