Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap manusia, hal ini sudah dijelaskan dalam semua Agama baik itu Islam, Kresten, Katolik, Budha, maupun Hindu. Dasar dari segala dasar dalam Ilmu mengatakan bahkan untuk segala perkara yang dicari harus diketahui bahwa ilmu adalah ibadah.
Adab ini diambil dari sebuah buku yang berjudul :
﴿ مختصر حلية طالب العلم ﴾
Syekh Bakar bin Abdullah Abu Zaid –rahimahullah-
Diringkas oleh:
DR. Muhammad bin Fahd al-Wad'an
Dan setiap Ibadah harus mengikuti Tata Cara yang mengaturnya. Untuk itu perlu dipahami adab yang berlaku bagi Murid.
ADAB PENUNTUT ILMU
1. Ilmu adalah ibadah:
Dasar dari segala dasar dalam 'bekal',
bahkan untuk segala perkara yang dicari adalah engkau mengetahui bahwa ilmu
adalah ibadah, dan atas dasar itu maka syarat ibadah adalah:
1)
Ikhlas
karena Allah SWT, berdasarkan firman Allah SWT:
وَمَآ أُمِرُوْ~ا
إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ
Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan
keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus,. (QS. al-Bayyinah:5)
Dan dalam sebuah
hadits, Nabi Muhammad SAW
bersabda: 'Sesungguhnya segala amal disertai niat...'
Maka jika ilmu sudah kehilangan niat yang ikhlas, ia
berpindah dari ketaatan yang paling utama kepada kesalahan yang paling rendah
dan tidak ada sesuatu yang meruntuhkan ilmu seperti riya, sum'ah dan yang lain
nya.
Atas dasar itulah, maka engkau harus membersihkan niatmu dari segala hal yang mencemari kesungguhan menuntut ilmu, seperti ingin terkenal dan melebihi teman-teman. Maka sesungguhnya hal ini dan semisalnya, apabila mencampuri niat niscaya ia merusaknya dan hilanglah berkah ilmu.
Karena inilah engkau harus menjaga niatmu dari pencemaran
keinginan selain Allah SWT, bahkan engkau menjaga daerah terlarang.
2)
Perkara
yang menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat: yaitu cinta kepada Allah SWT dan
rasul-Nya dan merealisasikannya dengan mutaba'ah dan mengikuti jejak langkah
beliau.
2. Jadilah engkau seorang salafi:
Jadikanlah dirimu seorang salafi yang
sungguh-sungguh, jalan salafus shalih dari kalangan sahabat radhiyallahu
'anhum dan generasi selanjutnya yang mengikuti jejak langkah mereka dalam
semua bab agama dalam bidang tauhid, ibadah dan lainnya.
3. Selalu takut kepada Allah SWT:
Berhias diri dengan membangun lahir
dan batin dengan sikap takut kepada Allah SWT, menjaga syi'ar-syi'ar islam,
menampakkan sunnah dan menyebarkannya dengan mengamalkan dan berdakwah
kepadanya.
Hendaklah engkau selalu takut kepada Allah SWT dalam kesendirian dan bersama orang banyak. Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang takut kepada Allah SWT, dan tidak takut kepada-Nya kecuali orang yang berilmu.
Dan jangan hilang dari ingatanmu bahwa seseorang tidak
dipandang alim kecuali apabila ia mengamalkan, dan seorang alim tidak
mengamalkan ilmunya kecuali apabila ia selalu takut kepada Allah SWT.
4. Senantiasa muraqabah :
Berhias diri dengan senantiasa
muraqabah kepada Allah SWT dalam kesendirian dan kebersamaan, berjalan kepada Rabb-nya
di antara sikap khauf (takut) dan raja` (mengharap), bagi seorang
muslim kedua sifat itu bagaimana dua sayap bagi burung.
5. Merendahkan diri dan membuang sikap sombong dan takabur:
Hiasilah dirimu dengan adab jiwa, berupa sikap menahan diri dari meminta, santun, sabar, tawadhu terhadap kebenaran, sikap tenang dan rendah diri, memikul kehinaan menuntut ilmu untuk kemuliaan ilmu, berjuang untuk kebenaran.
Jauhilah sikap sombong, sesungguhnya
ia adalah sikap nifak dan angkuh. Salafus shalih sangat menjauhi sikap tercela
tersebut.
Jauhilah penyakit sombong, maka sesungguhnya sikap sombong, tamak dan dengki adalah dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah SWT.
Sikap congkakmu terhadap gurumu adalah sikap sombong. Sikap engkau meremehkan orang yang memberi faedah kepadamu dari orang yang lebih rendah darimu adalah sikap sombong.
Kelalainmu dalam mengamalkan ilmu merupakan tanda kesombongan dan tanda
terhalang.
6. Qana'ah
dan zuhud:
Berbekal diri dengan sikap qana'ah (merasa cukup dengan yang ada) dan zuhud. Hakikat zuhud adalah: Enggan terhadap yang haram, menjauhkan diri dari segala syubhat dan tidak mengharapkan apa yang miliki orang lain.
Dan atas dasar itulah, hendaklah ia sederhana dalam
kehidupannya dengan sesuatu yang tidak merendahkannya, di mana dia dapat
menjaga diri dan orang yang berada dalam tanggungannya, dan tidak mendatangi
tempat-tempat kehinaan.
7. Berhias diri dengan keindahan ilmu:
Diam yang baik dan petunjuk yang
shalih berupa ketenangan, khusyuk, tawadhu', tetap dalam tujuan dengan
membangun lahir dan batin dan meninggalkan yang membatalkannya.
8. Berbekal diri dengan sikap muru`ah:
Berbekal diri dengan sikap muru`ah dan
yang membawa kepadanya berupa akhlak yang mulia, bermuka manis, menyebarkan
salam, sabar tergadap manusia, menjaga harga diri tanpa bersikap sombong,
berani tanpa sikap fanatisme, bersemangat tinggi bukan atas dasar kebodohan.
Oleh karena itu, tinggalkanlah sifat
yang merusak muru`ah (kesopanan) berupa pekerjaan yang hina atau teman
yang rendah seperti sifat ujub, riya, sombong, takabur, merendahkan orang lain
dan berada di tempat yang meragukan.
9. Bersikap jantan termasuk sikap berani.
Keras dalam kebenaran dan akhlak yang mulia, berkorban di jalan kebaikan sehingga harapan orang menjadi terputus tanpa keberadaanmu.
Atas dasar itu, hindarilah lawannya
berupa jiwa yang lemah, tidak penyabar, akhlak yang lemah, maka ia
menghancurkan ilmu dan memutuskan lisan dari ucapan kebenaran.
10. Meninggalkan
kemewahan:
Jangan
terlalu berlebihan dalam kemewahan, maka sesungguhnya 'kesederhanaan termasuk
bagian dari iman', ingatlah wasiat Umar bin Khathab RA: 'Jauhilah
kenikmatan, pakaian bangsa asing, dan bersikaplah sederhana dan kasar...'
Atas dasar itulah, maka jauhilah kepalsuan peradaban, sesungguhnya ia melemahkan tabiat dan mengendurkan urat saraf, mengikatmu dengan benang ilusi.
Orang-orang yang serius sudah mencapai tujuan
mereka sedangkan engkau tetap berada di tempatmu, sibuk memikirkan pakaianmu.
Hati-hatilah dalam berpakaian karena ia mengungkapkan pribadimu bagi orang lain dalam berafiliasi, pembentukan dan perasaan. Manusia mengelompokkan engkau dari pakaianmu.
Bahkan, tata cara berpakain memberikan gambaran bagi yang
melihat golongan orang yang berpakaian berupa ketenangan dan berakal, atau
keulamaan atau kekanak-kanakan dan suka menampilkan diri.
Maka pakailah sesuatu yang menghiasimu, bukan merendahkanmu, tidak menjadikan padamu ucapan bagi yang berkata (maksudnya, orang lain tidak memberikan komentar, pent.) dan ejekan bagi yang mengejek.
Jauhilah pakaian kekanak-kanakan,
tidak berarti kamu memakai pakaian yang tidak jelas, akan tetapi sederhana
dalam berpakaian dalam gambaran syara', yang diliputi tanda yang shalih dan
petunjuk yang baik.
11. Berpaling
dari majelis yang sia-sia:
Janganlah engkau berkumpul dengan
orang-orang yang melakukan kemungkaran di majelis mereka, menyingkap tabir
kesopanan. Maka sesungguhnya dosamu terhadap ilmu dan pemiliknya sangat besar.
12. Berpaling
dari kegaduhan
Memelihara
diri dari keributan dan kegaduhan, maka sesungguhnya berada
atau suka dalam sebuah kegaduhan atau keributan bertentangan dengan adab menuntut ilmu.
13. Berhias
dengan kelembutan:
Hendaklah selalu lembut dalam ucapan,
menjauhi kata-kata yang kasar, maka sesungguhnya ungkapan yang lembut
menjinakkan jiwa yang membangkang.
14. Berpikir:
Berhias dengan merenung, maka
sesungguhnya orang yang merenung niscaya mendapat, dan dikatakan: renungkanlah niscaya engkau mendapat.
15. Teguh dan
kokoh:
Berhiaslah dengan sikap teguh dan kokoh, terutama di dalam musibah dan tugas penting. Dan di dalamnya: sabar dan teguh di saat tidak bertemu dalam waktu yang lama dalam menuntut ilmu dengan para guru, maka sesungguhnya orang yang teguh akan tumbuh.
Demikianlah kelima belas Adab Penuntut Ilmu Dalam Dirinya Sendiri, Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Terimakasih.

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus